Imbas Perkataan Omongan Ucapan, Anak Jadi Kecewa dan Sakit Hati dengan Orang Tua

Saya mau cerita tentang karakter seseorang, mereka adalah orang tua atau teman dekat..

Pernahkah kamu mempunyai ibu yang karakternya beda, saat omong emosian, omongannya banter melengking dikuping, mudah menyidir dan apalah-apalah itu.

Omongannya terkesan tak nyaman untuk disimpan didalam hati, beranggapan dia yang paling benar, tidak bisa menerima kritikan, terkesan banyak tetangga bahwa dia adalah orang yang tidak pernah mikir dulu sebelum omong.

Setiap kali ibu menjumpai hal yang ia dengar atau ia lihat dan hal itu tidak sreg dihatinya, lalu omong senaknya, dan kadang orang sekitarnya sakit hati dengan omongnya.

Apa sama? ibu mu punya tipe seperti itu.. Sering kali ditegur namun tidak membuahkan hasil, tidak berubah, ya ini karena merasa paling benar.

Imbas Perkataan Omongan Ucapan, Anak Jadi Kecewa dan Sakit Hati dengan Orang Tua

Pernah kan kamu menjumpai hal yang sama?

Lalu bagaimana kalian menghadapi tipe orang yang punya karakter seperti itu?

Kadang kita terasa capek bahkan merasa orang yang paling malu melihat ibu kita suka marah-marah ke orang lain (kayak enggak lihat tempat dan waktu).. dan jadinya kita sering berantem mulut gara-gara ia sering ngomelin pembantu.

Masih mending ada pembantu, jika tidak, semua seisi rumah disuruh merapikan, tapi dia enggak mau ikut merapikan, diam saja, hanya suka merintah :)

Kadang bingung, bagaimana menghadapi ibu yang kayak gitu karakternya, apa harus pasrah begitu saja, ataukah sok cuek saja dan menganggap itu hal yang biasa.

Mungkin cara cuek ini bisa dilakukan, tapi kalau keseringan omong menyakitkan ke orang lain menjadi masalah lah. Imbasnya, citra keluarga jadi tidak bagus dan dibenci banyak orang sekitar, ya kan!

Kita musti kepengen ibu yang kayak gini cepat berubahnya..

Apalagi kamu pernah mengalami hal yang sama, sedari kecil sering dimarahi ibu yang ngomel-ngomel plus teriak-teriak.. kadang kita sudah iklas dengan kondisi ibu seperti itu.. hanya saja kita kan enggak pengen orang lain kena omelannya, suka menyakitkan hati orang lain.. kadang pikiran kita sudah buntu.. dan harus berbuat apa? harus bagaimana lagi?

Apa harus kita jalani dengan tanpa tertekan!

Apalagi tinggal diperkotaan, serba sibuk sendiri-sendiri, dan seolah cuek-cuek.

Sebagai anak mustiya menghormati orang tua, ya selalu dan selalu.. Kadang kita sudah memaklumi dengan keadaan orang tua kita super sibuk sampai-sampai tidak sempat ngurusi anaknya sendiri.

Kadang punya masalah pribadi saja kedua orang tua tidak ada yang tahu, setiap masalah hanya bisa diselesaikan sendiri. Kadang kita sering merasa kesepian karena orang tua super sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri.

Gimana jika kondisi orang tua kamu begini, apa kamu harus tetap menyayanginya?

Kalau ditanya apakah saya sayang orang tua?

Ya musti sayang, selalu..

Namun, pernahkan kalian merasakan kasih sayangnya?

Kadang kita sempat trauma dengan kondisi ibu yang seperti itu, lebih baik kita enggak ada daripada menjalani hidup yang selalu tertekan begini..

Kadang menyesal banget.. kenapa dulu enggak diaborsi saja dari pada harus hidup begini tanpa kasih sayangnya.

Kalian pernah enggak? dari seusia SD, makanan setiap hari adalah omelan ibu sampai merasa pengen lari karena enggak pernah betah dirumah.

Diomelin bukan karena salah atau nakal, tapi karena anaknya bodoh. Pelajaran sekolah tidak pernah dapet nilai bagus, ibu marah-marah betul karena anaknya terlalu bodoh.

Ya hanya sebatas marah, tapi tidak mau mendampingi belajar gitu..

Sepertinya ibu belum siap punya anak deh, buktinya tidak ada rasa kasih sayang dan selalu marah-marah. Atau karena anaknya hasil diluar pernikahan, sehingga seenaknya saja memperlakukannya.

Memang sih, anak hasil diluar nikah bukan salah anaknya tetapi yang berbuatnya. Kadang sempat berfikir, anak hasil diluar nikah bakal punya nasib yang tidak mengenakkan, sering tertimpa masalah-masalah karena perbuatan orang tuanya dulu..

Apa nasib itu benar?

Semoga saja tidak.

Kadang fikiran itu muncul dan hilang, hanya saja karena depresi berat yang imbasnya suka sering negatif thinking.. saat belum ada pembatu rumah tangga, anaknya sering dititip-titipkan begitu saja, lebih sering dirumah kakek nenek daripada rumah ibu sendiri, karena orang tua super sibuk bekerja seharian dan kadang betah tidak pulang, hobinya cari duit setiap hari, seperti lupa pada anaknya sendiri.

Entah kapan akan berakhir perasaan sepi dari kasih sayang seorang ibu, bertahun-tahun hanya ditemani seorang pembantu rumah tangga saja.. memang ibu sudah berkarakter pemarah dan emosi dari sejak dulu dan pembantunya menjadi sasaran amarahnya.. tapi karena anaknya masih kecil beranggapan ibu marah memang wajar karena pembantu mungkin yang salah.. tapi setelah anaknya makin dewasa kadang menjumpai ibu saat marah kepada pembantu memang keterlaluan tidak tahu tempat dan waktu.

Sekarang setelah kuliah dan ambil jurusan psikologi, sudah memahami betul ternyata dulu ibu tidaklah pernah mengasuh anaknya dengan baik. Dan hasilnya saat belajar psikis ini menjadi bingung tentang makna hidup yang sebenarnya.. mungkin karena dari dulu sering ndenger kata-kata yang meyakitkan itu..

Kadang kita berfikir, karena trauma, enggak kepikiran punya anak suatu saat. Memang ibu saat mengasuh anaknya lebih pada otoriter dan plegmantis, ini tidak baik menurut saya.

Kalau dibilang sistem mengasuh demokrat, tidak juga, pasalnya ibu sering tidak mau menerima kritikan dari anaknya, bahkan sama sekali tidak mau mendengar kritikan, malah yang ngritik selalu disalahkan.

Apalagi sifatnya penyuruh. Sukanya menyuruh apapun itu yang ia suka, dilain sisi mereka tetapi tidak peduli sama anaknya, jadi kita kadang bingung harus bagaimana lagi.. harus ber ibu dan ber bapak kepada siapa??

Setelah belajar banyak hal, diri ini semakin lemah enggak sekuat dulu lagi, saat ibu ngomelin kadang ngelawan, sekarang tidak lagi..

Apa kini harus menjadi seorang anak yang sok kuat??

Yang namanya sok itu tidaklah kekal, diri ini mulai capek dengan manusia yang sok kuat.. sampai-sampai ketiban depresi dan malah mereka bilang tidak ada depresi-depresian.

Memanglah nasib anak ini serba salah. Minta support kepada mereka malah anaknya disalahkan.. anaknya lah yang dibilang degil.. Sedih sekali saat mengingat-ingat kembali kejadian itu, semua serba cuek dan enggak ada siapa-siapa yang mensupport.

Sepertinya anak ini gagal, ibu tetap saja tidak berubah, memang susah juga kalau mereka anti terhadap kritikan, lalu tidak pernah mau sadar.

Putusan saat ini harus sedikit jaga jarak, meski orang tua sendiri. Mudah-mudahan adik-adik yang masih kecil ini bisa bersabar menghadapi ibu yang emosian, semoga mereka bertumbuh berkembang menjadi orang yang baik, tidak ikut-ikutan ibunya.

Memang karakter ibu bukanlah sesosok yang mudah menerima masukkan orang lain, cenderung merasa benar dan menyalahkan.

Karakternya sebagai penyuruh, kadang saat ngomelin pembantu suka nyakitin hati, "maka nya pakai otak dong.. Masa begini enggak bisa, bodoh amat lo"

Apakah kalian pernah menjumpai ibu yang seperti itu??

Mungkin kalau ngomel-ngomel pada anakya bakalan bisa dibalas balik, karena dia pembantu maka diam saja, padahal pembantu ibu ini sudah cager banget, melakukan pekerjaan dengan hati dan iklas.

Melihat dan mendengar sendiri kelakuan ibu memang risih banget sih, engga nyaman, dan justru kalau didiamkan malah membebani sendiri.

Apa kodrat seorang ibu memang begitu.. kalau dinasehatin enggak berubah, kalau dibiarkan malah menjadi..

Apakah kita harus sok cuek, tutup mata dan telinga ??

Kebingungan ini justru membuat diri anak ini terbebabi sendiri.. Apa? yang harus dilakukan seorang anak jika ibu emosian, anti kritikan, enggak pernah menerima kenyataan kalau dia memang salah..

Segala cara sudah dilakukan dan sama sekali tidak membuahkan hasil..

Apa kalian pun nasibnya begini??
PERHATIAN! Mohon dengan amat sangat untuk tidak copy paste isi artikel dalam blog ini kecuali disertai sumber URL-nya. Blog ini atas perlindungan Allah SWT semata.

No comments:

Post a Comment

Komentar Aneka Ragam Sehat
1. Berkomentar Sesuai Tema
2. Disetujui